Stp Sumbawa

Sumbawa Technopark Hadir Untuk Meningkatkan Daya Saing Daerah

Oleh Dr. Arief Budi Witarto, M.Eng. (Direktur Sumbawa Technopark)

 

Pada tanggal 2 Maret 2017 lalu, Sumbawa Technopark diresmikan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEK-DIKTI) yang diwakili dua pejabat tingginya yaitu SEKJEN dan DIRJEN Kelembagaan IPTEK-DIKTI yang mewakili MENRISTEK-DIKTI yang sedianya akan hadir. Kegiatan peresmian ini sendiri adalah peristiwa seremonial, karena tidak semua Technopark dan Sciencepark dibawah koordinasi KEMENRISTEK-DIKTI ada peresmiannya, terutama yang sudah berjalan lebih dulu. Akan tetapi upacara peresmian ini akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang Sumbawa Technopark yang rencana-rencana dan mimpi-mimpi-nya akan diuraikan dalam tulisan ini.

1. Pencapaian sebelum peresmian

Peresmian Sumbawa Technopark yang ditandai dengan penandatanganan prasasti, pemotongan pita dan peninjauan gedung workshop, tidak semata hanya penegasan bahwa fasilitas fisik atau “hardware” dari Sumbawa Technopark sudah rampung. Tetapi yang lebih penting adalah sisi “humanware” dan “software” Sumbawa Technopark sudah dianggap siap mengelola Technopark ini. Sebab, kemewahan dan kemegahan gedung dan peralatan, tidak akan berarti bila tidak ada sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, tahu apa yang harus dikerjakan dan terorganisir secara rapi.

Di antara 6 Kementerian dan Lembaga Tinggi lain (Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, BPPT, LIPI, BATAN) yang juga mengkoordinasi program Science and Technopark (STP), hanya KEMENRISTEK-DIKTI yang memperhatikan benar penyiapan SDM Pengelola melalui program-program pelatihan baik di dalam negeri (DN) maupun luar negeri (LN). Dalam 2 tahun terakhir (2015, 2016) 11x pelatihan di dalam negeri yang menghadirkan pembicara pengelola STP yang sudah berjalan lebih dulu seperti Bandung Technopark, Solo Technopark, Asosiasi Science and Technopark Indonesia, Inkubator Bisnis Teknologi dari IPB, LIPI, dll. Maka tidak heran apabila program STP KEMENRISTEK-DIKTI bisa dibilang paling sukses sampai saat ini sehingga pada tahun 2017 ini jumlahnya dari 8 pada awal 2015, bertambah menjadi 15.

Sementara STP di Kementerian Pertanian menurun dari 43 menjadi 23, Kementerian Kelautan dan Perikanan juga menurun dari 24 menjadi 4 dan yang lainnya tetap. Memang KEMENRISTEK-DIKTI ditunjuk sebagai “koordinator” sehingga memiliki beban moral untuk menjadi yang terbaik pada program yang setiap tahun dievalusi langsung oleh Presiden RI lewat Kantor Kepresidenan. Di luar mengikuti program pelatihan SDM Pengelola KEMENRISTEK-DIKTI, kami juga mencari kesempatan mengikuti pelatihan dengan biaya lain. Alhamdulillah sampai dengan sekarang, sudah 3x kami dapat mengikuti pelatihan intensif di luar negeri yaitu ke Ideon Sciencepark (kota Lund, Swedia), Business Technology Research Park-Western Michigan University (kota Kalamazoo, AS), dan Washington DC, North Carolina dan Texas (AS).

Jumlah STP KEMENRISTEK-DIKTI bertambah 6 buah dengan masuknya PTN-BH besar di Pulau Jawa yaitu UGM, ITB, IPB, ITS dan UNPAD. Walau demikian, ditengah “persaingan ketat” tersebut, Sumbawa Technopark berdasar evaluasi dari pihak ketiga yang disewa KEMENRISTEK-DIKTI untuk melihat kesiapan Technopark yang ada, mendapat skor 2,527 (dari nilai maksimum 4,000), hanya selisih 0,030 dari Solo Technopark (skor 2,530) yang menjadi bench mark /contoh dan pertama didirikan di Indonesia pada era Presiden Jokowi waktu itu menjadi Wali Kota Solo. Kemampuan Sumbawa Technopark mendapat nilai tinggi ini tak pelak karena kemampuan Pengelolanya mengarahkan perkembangan Sumbawa Technopark yang dimulai dari “nol” agar pada rel yang benar dari pengalaman mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut.

2. STP Sumbawa dan Inkubasi Bisnis Teknologi

KEMENRISTEK-DIKTI menegaskan bahwa peran utama Technopark adalah inkubasi bisnis teknologi dengan menghasilkan perusahaan pemula berbasis teknologi (PPBT) atau perusahaan start-up. Oleh karena itu “jantung” dari Technopark adalah inkubator. Walau fisik Sumbawa Technopark baru diresmikan awal 2017, sejak 2015 pengelola Sumbawa Technopark telah berinisiatif memulai kegiatan inkubasi tersebut. Karena pendanaan dari KEMENRISTEK-DIKTI tidak ada, maka upaya yang dilakukan adalah mengikuti program insentif inovasi yang bersifat kompetitif di tingkat Nasional. Sampai saat ini, sudah ada 3 PPBT yang “ditelurkan” dimana 2 di antaranya sudah mendapat dana insentif inovasi kompetitif yaitu PT Alga Biodiesel Sumbawa yang pada tahun 2016 lalu mendapat dana Program Pengembangan Teknologi dan Industri dari DITJEN Penguatan Riset dan Pengembangan, KEMENRISTEK-DIKTI untuk membuat prototip reaktor biogas berbahan baku sampah organik, juga PT Date Palm Biotech yang diko-inkubasi dengan inkubator bisnis teknologi swasta di kota Depok, Jawa Barat yang perusahaan pendahulunya mendapat investasi dari swasta dan dana insentif inovasi dari program Layanan Inkubasi Bisnis Teknologi dari TBIC PUSPIPTEK KEMENRISTEK-DIKTI tahun 2016. Selain itu, adalah PT Sumbawagen Nusa Tenggara Biotech, yang berusaha mewujudkan mimpi-mimpi tim Sumbawagen Fakultas Teknobiologi UTS yang menggondol penghargaan Chairman Award dll di Kompetisi Dunia IGEM tahun 2014 di Boston, AS lalu. Tiga contoh di atas yang menjadi salah satu poin tinggi skor penilaian Sumbawa Technopark di banding Technopark lain karena program inkubasi sudah dilakukan. Selain itu, hal ini juga menjadi keyakinan diri Pengelola yang telah “belajar” mengikuti program insentif inovasi kompetitif untuk nantinya benar-benar bisa mengelola sendiri.

Pada tahun 2017 ini, Sumbawa Technopark dapat diperkirakan tidak hanya mulai berjalan, tapi berlari untuk menjalankan kegiatan inkubasi bisnis teknologi. Ada dua inkubator yang disiapkan yaitu inkubator teknologi dan inkubator seni. Untuk inkubator teknologi, lini usaha baru berbasis teknologi yang disiapkan antara lain pembuatan mesin pertanian ber-SNI untuk menunjang program One Village One Product. Misi kami memang adalah membuat sesuatu yang baru, belum ada di Sumbawa, kalau bisa bahkan NTB, Indonesia Timur dan Nasional atau Internasional. Maka alat permesinan yang ada di Sumbawa Technopark tidak akan digunakan untuk membuat “sekedar” rangka baja, dsb yang sudah dapat dikerjakan bengkel-bengkel pengelasan di Sumbawa. Tetapi membuat sesuatu yang dapat menjadi kebanggaan masyarakat Sumbawa, serta menjawab masalah yang ada. Mesin pertanian ber-SNI adalah jawabannya. Untuk itu, kami sedang melatih operator alat permesinan untuk punya sertifikasi Nasional juga. Sementara inkubator seni adalah upaya sampingan yang terinspirasi dari Inkubator serupa bernama “Creative Plot” di Ideon Sciencepark (Swedia) yang bersama 3 inkubator lain membuat Ideon Sciencepark bertahan selama 30 tahun dan menjadi salah satu yang terbaik di Eropa. Inkubator seni ini dimunculkan melihat potensi seni di Sumbawa yang kuat dari seni musik, seni lukis, seni tari, dsb. Sebagaimana juga inkubator teknologi, inkubator seni bertugas melahirkan kegiatan-kegiatan profesional yang bisa menggiring produk seni Sumbawa menjadi komersial dan dinikmati masyarakat luas di luar Sumbawa.

Dari mana semua dana inkubasi itu? Seperti telah diuraikan di atas, tidak ada dana khusus dari KEMENRISTEK-DIKTI untuk dana inkubasi bisnis teknologi/seni sampai saat ini, sehingga Pengelola harus punya kreatifitas dan jejaring yang kuat. Memang bedanya Technopark dengan Balai Pelatihan adalah “pendampingan”. Pengelola Technopark dibekali pengetahuan bahwa ada banyak dana insentif inovasi yang bersifat kompetitif dari Pemerintah maupun Swasta, termasuk juga dari CSR BUMN dan Perusahaan Swasta besar yang dapat dimanfaatkan. Pengelola Sumbawa Technopark juga sudah berpengalaman mendapatkannya, tahun lalu. Oleh karena itu, kami mengetahui bagaimana cara mendapatkannya. Untuk itu, akan dilakukan upaya seleksi calon-calon “tenant” (istilah untuk pihak yang akan diinkubasi di Technopark) melalui skema yang terbuka untuk siapa saja. Sebab sumber inovasi bisa dari Perguruan Tinggi, Komunitas, Lembaga LITBANG, Swasta, dll.

Kami juga akan bekerjasama dengan PEMDA yang memiliki dana-dana sejenis tapi belum diarahkan sampai menjadi produk inovasi, seperti program Pelatihan, Lomba TTG (Teknologi Tepat Guna), dsb. Sumbawa Technopark dapat mendampingi agar Pelatihan dan Lomba itu tidak selesai sampai penyerahan Sertifikat atau Hadiah, tapi benar-benar menjadi keahlian yang produktif atau produk yang dapat dikonsumsi.

3. STP Sumbawa, Pelatihan dan Sertifikasi

Pelatihan berbasis teknologi yang dibarengi dengan sertifikasi adalah salah satu potensi pemasukan Pengelola Technopark yang lazim diterapkan di berbagai Technopark dalam dan luar negeri. Untuk mengujinya, pada tahun 2016 lalu, Sumbawa Technopark telah menggulirkan “Signature Event” atau kegiatan unggulan berupa Pelatihan Tes Genetik yang berjalan sukses. Peserta dari kalangan umum, PNS, dosen, mahasiswa dari dalam Kabupaten Sumbawa, bahkan juga dari Kota Mataram. Hal ini menjadi kepercayaan diri Pengelola, untuk melakukan Pelatihan-Pelatihan lanjutan dengan topik yang lebih bervariasi seperti Pelatihan Tes Kehalalan, Pelatihan Pangan, dan sejenisnya yang sedang dirintis kerjasamanya bersama PT Sucofindo (Persero) sebagai salah satu Lab Rujukan Nasional, juga Pelatihan-Pelatihan Permesinan dan Las. Di luar keahlian yang bersifat “hard skill” tersebut, Sumbawa Technopark juga merencanakan pelatihan “soft skill” berbasis komputasi seperti Penerbangan Drone, Disain Grafis, dsb.

Pelatihan-pelatihan tersebut akan dirangkai dengan Sertifikasi, pertama oleh penyelenggara sendiri yaitu Sumbawa Technopark, dan lambat laun mengikuti standar Nasional bahkan Internasional. Sebagai contoh, Solo Technopark memiliki kekhususan Pelatihan Las Bawah Air yang berbiaya sekitar Rp. 20 juta, bersertifikat Nasional. Pelatihan ini hanya ada 2 di Indonesia dimana yang satunya dijalankan pihak Swasta. Memang, setiap Technopark perlu memiliki “signature event” sebagai upaya diferensiasi baik tinggal lokal, regional maupun Nasional. Dan seperti diuraikan di atas, program-program pelatihan oleh PEMDA bisa dikemas dan ditingkatkan kualitasnya lewat kerjasama dengan Sumbawa Technopark agar membekali warga Sumbawa menjadi lebih kompetitif di dunia usaha dan kerja.

4. STP Sumbawa dan Kegiatan Inovasi yang Berkelanjutan

“Mendukung kegiatan inovasi yang berkelanjutan” adalah satu dari tiga fungsi utama STP yang digariskan oleh KEMENRISTEK-DIKTI, selain “inkubasi bisnis teknologi” dan “melayani industri yang sudah ada/existing”. Masuknya 5 PTN-BH ke dalam program STP KEMENRISTEK-DIKTI disebabkan karena universitas-universitas itu memiliki banyak kegiatan invensi/penemuan yang dilakukan para dosen dan mahasiswanya, yang berpeluang menjadi karya inovasi. Di perguruan tinggi, kegiatan akademik yang bobot penelitiannya lebih besar ada di program pasca sarjana (S2/S3). Oleh karena itu, Sumbawa Technopark berusaha meraih fungsi tersebut dengan menggandeng perguruan tinggi di Sumbawa yang memiliki program pasca sarjana.

Sejauh yang kami ketahui, selama ini belum ada program pasca sarjana di Pulau Sumbawa yang dikelola sendiri oleh perguruan tinggi lokal. Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), pada kesempatan peresmian Sumbawa Technopark lalu, juga melakukan soft-launching Prodi Magister S2 Bioteknologi dan Prodi Magister S2 Manajemen Inovasi yang sangat relevan dengan prioritas Sumbawa Technopark. Oleh karena itu, Sumbawa Technopark bekerjasama dengan UTS agar kedua Prodi Pasca Sarjana itu dapat berjalan dengan baik sehingga lahir lebih banyak invensi yang kemudian akan tersaring menjadi inovasi di kemudian hari.

Kerjasama dengan Prodi Pasca Sarjana ini sangat terbuka untuk bagi Perguruan Tinggi lain di Sumbawa, apabila memiliki bidang keilmuwan yang relevan dengan fasilitas yang ada, maupun jejaring yang dimiliki serta akan mendukung tercapainya fungsi ketiga Technopark.

5. STP Sumbawa : Tempat yang Indah, Menyenangkan dan Inspiratif

Sumbawa Technopark akan menjadi salah satu spot indah di Sumbawa, walau mungkin harus menunggu 10-20 tahun lagi. Tapi kesabaran itu akan berbuah manis sebagaimana masyarakat Jepang sangat membanggakan bunga Sakura yang pohonnya berusia ratusan tahun dan tidak berbunga kecuali hanya 2 minggu saja dalam satu tahun. Belajar dari situ, saat ini kami membibitkan pohon flamboyan yang berdasarkan penelitian, flamboyan Sumbawa bunganya memiliki warna khas dibanding di daerah manapun di Indonesa. Pohon flamboyan akan jadi tanaman dominan menghiasi jalan-jalan di kawasan Technopark, sehingga pada musimnya, bunganya akan mempercantik kawasan Sumbawa Technopark. Sepanjang pengamatan kami, pohon flamboyan di Sumbawa Besar belum ada yang tertata rapi seperti berjejer sepanjang jalan, kecuali tertanam sporadis. Alangkah indahnya bila ada satu jalan yang kiri kanannya, dalam jarak ratusan meter pada momen tertentu dihiasi bunga alami yang mekar bersamaan. Sensasi keindahan alam inilah yang dihayati benar oleh masyarakat Jepang, sehingga menentukan jadwal kelulusan seluruh siswa dan mahasiswanya pada bulan April agar dapat diiringi oleh mekarnya bunga merah jambu Sakura yang khas. Romantisme itu ingin kami bangkitkan juga di Sumbawa Technopark.

Sumbawa Technopark akan menjadi tempat yang menyenangkan, karena tidak sekedar dipenuhi peralatan mesin yang dingin dan keras, tapi terdapat alunan musik disela-selanya karena kami merencanakan pertunjukan seni berkelas yang disajikan live secara periodik. Untuk lebih menumbuhkan aura yang ada, salah satu pojok workshop mesin telah kami “sulap” menjadi Pojok Kreatif dimana pertunjukan seni itu bisa dilakukan. Di salah satu dinding Pojok Kreatif, kami membuat lukisan mural 3D karya putra Sumbawa yang menggambarkan sosok Einstein sedang mengajar. Sehingga para hadirin juga dapat berpose bersama seoalah-olah sedang diajar oleh tokoh ilmu pengetahuan dunia ini. Keunikan meninkmati pertunjukan seni di antara peralatan-peralatan manufaktur di atas bukit yang sunyi, pasti memberikan sensasi berbeda daripada hentakan keras sound system di panggung terbuka seperti lazimnya ada selama ini.

Sumbawa Technopark juga akan menjadi tempat yang inspiratif karena tekad kami adalah membuat segala sesuatu (produk barang, jasa, karya seni, dll) yang belum ada di Sumbawa, NTB, bahkan mungkin Nasional dan Internasional. Dalam mitologi Nusantara yang dinarasikan oleh budayawan Nasional Taufik Rahzen dalam kesempatan Festival Tambora 2015 lalu diceritakan bahwa Sumbawa ada di “pusar” Nusantara. Dahulu, semua perpindahan orang dan barang menuju ke lokasi ini. Gunung Tambora berketinggian 4.000 m lebih – tertinggi di Nusantara saat itu – ibarat “menara” yang memanggil orang dari seluruh pelosok dunia untuk datang ke Teluk Saleh, dijamu oleh berbagai produk laut yang melimpah. Romantisme mitologi ini membangkitkan keinginan untuk menjadikan Sumbawa sebagai pusat perekonomian baru dan Sumbawa Technopark menjadi salah satu agennya.

Dengan semua uraian di atas, kami harap masyarakat Sumbawa khususnya, dan NTB umumnya, dapat memahami dan merasakan getaran frekuensi yang sama dengan kami agar dapat beresonansi, bahwa Sumbawa Technopark akan menghadirkan solusi. Dengan demikian, walau sekedar sapaan dan doa, dukungan dari seluruh komponen masyarakat menjadi penguat kami para Pengelola untuk menghadirkan sesuatu yang selama ini dianggap tidak mungkin. Oleh karena itu semboyan kami adalah “Nothing is Impossible”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *