UTSGOINTERNASIONAL

IMAM W. ELTARA WAKILI INDONESIA DALAM FORUM INTERNASIONAL

Batu Alang, (15/12/2017)

Bali Democracy Forum (BDF) kesepuluh diselerenggarakan di International Convention Exhibition, Bumi Serpong Damai (ICE BSD) dan Hotel Grand Melia Jakarta 6-9 Desember. Forum internasional yang genap berusia satu dekade tersebut, pertama kali mendatangkan delegasi dari kalangan mahasiswa dari berbagai negara dalam kegiatan Bali Democary Student Conference (BDSC).

Mahasiswa Univeristas Teknologi Sumbawa (UTS) Imam Wierawansyah Eltara menjadi satu di antara 50 orang peserta sebagai delegasi Indonesia BDSC 2017 dari total 739 aplikasi pendaftaran berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia yang diseleksi langsung panitia Kementerian Luar Negeri.

Kegiatan yang diikuti 151 mahasiswa asing dari 61 negara tersebut, menjalani tiga sesi konferensi yang hasil akhirnya adalah sebuah dokumen rekomendasi bagi para delegasi negara peserta BDF 2017.

Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla berterima kasih kepada BDF karena selain berhasil mengundang delegasi-delegasi dari berbagai negara, even tersebut juga mengundang mahasiswa sebagai pemimpin masa mendatang untuk berpartisipasi di konferensi mahasiswa demokrasi di Indonesia.

“Generasi muda sejak awal adalah penggambaran demokrasi. Kemajemukan, toleransi,  mereka juga menjadi generasi muda yang cinta damai menjadi agen perdamaian. Karena apabila kita tidak menjalankan demokrasi pada akhirnya muncul radikalisme. Hampir semua radikalisme dimulai dari dari generasi muda. Radikalisme hanya mencapai tujuan tanpa suatu proses yang baik,” ujar Wapres.

Hal senada juga disampaikan Dian Sastrowardoyo yang hadir sebagai inspirational figure. Menurutnya, demokrasi bisa disebut sebagai sebuah kenyamanan kalau tidak bisa disebut kemewahan dalam pengalaman sejarah Indonesia. Sebab demokrasi harus dibayar mahal oleh bangsa Indonesia. Namun, katanya lagi, peristiwa itu kemudian melahirkan dan membangkitkan kesadaran berdemokrasi Indonesia. Dian pun mengungkap bahwa Bertelsmann Stiftung’s Transformation Index (BTI) menunjukkan indikasi positif perkembangan demokrasi di Indonesia pasca kerusuhan Mei 1998.

Sosok yang sempat berakting dalam duologi Ada Apa Dengan Cinta tersebut menyampaikan mimpi besarnya pada anak-anak bangsa di masa depan. Ia juga mengajak generasi muda untuk bersama-sama berkontribusi meninggalkan warisan bagi generasi penerus berupa freedom, hope, and peace.

Dalam sesi kedua, para delegasi disuguhkan diskusi panel dengan tema “Expectation to Deliver Democracy Youth Perspective”. Anak muda diajak untuk menyampaikan bagaimanakah demokrasi tersampaikan dan bermanfaat bagi masyarakat dalam kacamatannya masing-masing.

Dalam diskusi tersebut Imam memaparkan bahwa pemuda memiliki banyak cara-cara kreatif untuk menyampaikan aspirasinya. Misalnya, menciptakan ide kreatif dan inovatif yang dapat membantu pekerjaan masyarakat dan juga mengatasi permasalahan sosial. Imam juga menjelaskan bahwa inilah bukti aspirasi pemuda ingin didengarkan dan ingin terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Terlepas dari itu, Imam melihat bahwa di kalangan pemuda, tantangan sebenarnya saat ini adalah bagaimana membuat para pemuda lebih peduli dengan situasi sekitarnya. Sebab saat ini, pemuda yang memiliki kebebasan cenderung tercerabut dan merasa acuh dari lingkungannya, namun sangat terkoneksi dengan sesuatu yang jauh dari jangkauannya.

Terlepas masih banyaknya kekurangan dalam berbagai lini kehidupan demokrasi Indonesia, Imam mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kesempatan yang besar dalam demokrasi dibandingkan negara lain. Itu sebabnya ia menjelaskan bahwa Indonesia harus memanfaatkan kesempatan dengan baik meskipun masih banyak terdapat masalah seperti money politic.

“Money politic memang masih menentukan sikap politik dan masyarakat yang demokratis. Namun, yang membuat demokrasi penting adalah demokrasi harus sesuai dengan budaya lokal. Sehingga, tetap relevan dan memberikan dampak.” ungkapnya.

Dari hasil diskusi ini, para delegasi kemudian merancang sebuah dokumen hasil diskusi dan rekomendasi. Hasil diskusi tersebut disampaikan dalam sidang terakhir BDF 2017 sebagai Voice of Youth (Suara Para Pemuda) yang disampaikan oleh Chairwoman Bali Democracy Student Conference, Marina Kirilchuk yang berasal dari Ukraina, di depan 103 delegasi yang merupakan pejabat dari 96 negara dan 7 organisasi International negara yang hadir.

Dokumen tersebut menjadi bukti bahwa para generasi muda mampu untuk bersuara sehingga berkontribusi, terlibat dalam meningkatkan kualitas tujuan demokrasi. Yakni kesetaraan kesempatan, hak asasi manusia, dan kesejahteraan.

“Konferensi ini membuka wawasan yang sangat luas tentang bagaimana sebuah konferensi bagi saya. Dan saya bisa mendengar banyak opini, tidak semuanya sesuai dengan apa yang kita percaya, sehingga kita harus berusaha menerima dan berusaha menciptakan solusi yang sama-sama bisa diterima,” tutur pemuda yang baru-baru juga terpilih menjadi Duta Pemuda Kreatif itu.

Imam menyimpulkan bahwa para pemuda di era teknologi informasi saat ini merupakan sebuah peluang dan bukan ancaman bagi kehidupan masyarakat di masa depan khususnya dalam hal berdemokrasi. Selama para elit dan pengambil kebijakan mau untuk terbuka dan melibatkan peran para pemuda seperti mahasiswa untuk turut hadir dalam sebuah pengambilan kebijakan. Sebab mereka memiliki suara dan kontribusi yang nyata. (Imam Wierawansyah/*a/n)

Sumber: Universitas Teknologi Sumbawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *